Program konservasi energi, yang merupakan sumber energi kelima setelah minyak bumi, gas bumi, batu bara, dan Energi Baru Terbarukan (EBT), diperkenalkan kepada masyarakat melalui Gerakan Potong 10 persen, yang telah diluncurkan pada 27 April 2016 lalu.

Gerakan Potong 10 persen merupakan aksi bersama yang melibatkan pemerintah, pelaku bisnis/industri, organisasi masyarakat sipil, dan individu, untuk menghemat 10 persen konsumsi energi dalam melakukan aktivitas sehari-hari. “Konservasi sebenarnya yang paling mudah dilakukan di antara program energi baru terbarukan yang lain, namun ini adalah perubahan perilaku, maka dari itu harus ada gerakan untuk memulainya, yakni kampanye Potong 10 persen,” kata Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Rida Mulyana dalam Acara Sarasehan Media 2016, akhir pekan lalu di Sentul, Jawa Barat.

Dalam paparannya, Rida juga mengungkapkan bahwa Kampanye Penghematan Energi Nasional merupakan salah satu dari lima Kebijakan Pengembangan energi baru terbarukan. “Potensi penghematan energi terbesar dapat dilakukan dari sektor transportasi yakni sebesar 15-30 persen,”katanya. Selain transportasi, lanjut Rida, ada beberapa sektor juga yang memiliki potensi penghematan energi cukup besar. Sektor industri misalnya, dapat melakukan penghematan energi sebesar 10-30 persen. Bangunan komersial dapat melakukan penghematan sebesar 10-30 persen. Bahkan yang paling sederhana seperti sektor rumah tangga memiliki potensi penghematan energi sebesar 10-30 persen dari penggunaan saat ini. “Menghemat energi sebesar 1 kWh lebih murah dan dibandingkan dengan memproduksi energi sebesar 1 kWh,” ujar dia.

Senada dengan Rida Mulyana, Direktur Utama Energi Manajemen Indonesia (EMI) Aris Yunanto menjelaskan Konservasi energi dengan Potong 10 persen adalah usaha konservasi energi yang tidak membutuhkan teknologi dan biaya, semua orang dapat melakukannya.

“Konservasi energi dapat dilakukan dengan sangat sederhana misalnya mematikan lampu dan alat elektronik ketika tidak digunakan, mengatur suhu ruangan, mencabut tusuk kontak alat elektronik, serta mandi lebih cepat,”paparnya

Konservasi energi, menurut Aris, sedikit berbeda dengan efisiensi energi yang membutuhkan teknologi sederhana dengan biaya rendah, serta energi terbarukan dengan teknologi rumit dengan biaya tinggi. “Konservasi energi merupakan potensi bisnis yang besar namun belum tersentuh,”pungkas dia.

Sumber : http://ebtke.esdm.go.id/post/2016/05/23/1241/potensi.penghematan.energi.cukup.besar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *